(not) Just a Game

(not) Just a Game

(not) Just a Game
(ない)ただのゲーム

DISCLAIMER :
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
No Game No Life © Yuu Kamiya
(not) Just a Game © Yumeka Himuro
Cover pic © Felicia Himuro

GENRE : Angst, Fantasy

RATE : T

WARNING : AU, OOC, alur kecepatan dan gak jelas, banyak dialog

NOTE : Fiction ini dibuat untuk mengikuti event (abal-abalan) di Facebook dengan tanda #‎KNBIEVENT2016FF

HAPPY READING !!

 

Waktu menunjukkan pukul enam pagi di Jepang. Langit masih gelap seperti tengah malam. Kabut tebal dimana-mana, seolah menelan dunia. Hanya Rakuzan, sebuah gedung sekolah menengah atas yang kemegahannya tak tertutupi oleh kabut.

Seorang gadis bertubuh mungil berdiri di depan gerbang Rakuzan yang terbuka lebar. Pandangannya tertuju pada sebuah jendela di lantai paling atas gedung sekolah. Senyum samar menghiasi wajahnya. Tanpa ragu, gadis itu melangkah memasuki halaman sekolah.

Sosok bertubuh tegap tampak duduk menghadap sebuah papan permainan di depannya. Ruang kelas dimana ia berada sangat sepi. Tentu saja, mengingat kegiatan sekolah baru dimulai pukul delapan pagi.

Suara ketukan kayu pada papan permainannya memecah kesunyian. Sosok itu tersenyum tipis. Ia yakin ia menang, bahkan tanpa penerangan sekalipun. Keyakinannya mendadak tergantikan dengan keterkejutan.

Pintu kelas digeser hampir tanpa suara, menampakan siluet seorang gadis bertubuh kecil dengan mahkota di kepalanya. Gadis itu berjalan mendekati sosok yang sudah mengalihkan fokus dari papan permainannya. Tetap dengan senyum samarnya, gadis itu membuka mulutnya.

“Aku datang untuk menantangmu.. Akashi Seijuurou.. Senpai!”

 

***

 

Dalam waktu singkat, gym basket Rakuzan sudah dipadati oleh seluruh siswa yang ingin melihat sebuah ‘pertunjukan’.

Setengah lapangannya disulap menjadi seperti sebuah papan permainan. Di kedua sisi yang berseberangan berdiri seorang Akashi dan seorang gadis bermahkota. Meski juga memakai seragam Rakuzan, gadis itu memancarkan aura yang berbeda dari gadis lainnya.

“Perkenalkan, namaku Shiro. I’m a Queen,” ucap gadis itu tiba-tiba dengan suara lantang.

Akashi menatapnya datar. Sudah cukup ia terkejut saat bertemu dengannya di kelas tadi. Juga saat Akashi yang harus terseret bersamanya membolos upacara penerimaan murid baru. Sungguh kebetulan bahwa sang ratu adalah murid baru di Rakuzan. Hal-hal ini membuat Akashi yakin bahwa akan ada banyak kejutan lain yang akan ditunjukkan gadis bertubuh kecil itu.

“Akashi Seijuurou, an Emperror. It’s my pleasure to meet a Queen.. Like you..” Akashi berusaha menjaga kesopanannya dihadapan sang ratu.

Mendengar respon Akashi, Shiro tersenyum kecil. “Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Emperror?”

Akashi menggeleng pelan. Lebih baik ia menikmati saja apa yang akan disuguhkan padanya, daripada harus mengetahui segala niat aneh sang ratu yang akan membuyarkan keseruan bahkan sebelum permainan dimulai. Meski semua resiko terburuk adalah taruhannya.

“Baiklah, akan kujelaskan padamu. Kita akan memainkan Othello atau permainan reversi”

Sejumlah disks raksasa berwarna merah dan putih berjatuhan ke atas papan permainan tepat setelah Shiro mengucapkan nama permainan itu.

“Melihat dari ukurannya, tentu akan sulit untuk memindahkannya. Jadi, kau gunakan saja pikiranmu untuk mengaturnya. Seperti ini”

Beberapa disks terangkat dari papan, kemudian berderet membentuk suatu barisan di samping Shiro. Tak butuh waktu lama, Akashi sudah melakukan hal yang sama, menyisakan empat disks di atas papan.

“Agar permainan ini menjadi lebih menarik, aku akan ubah peraturan dasarnya. Pertama, jika biasanya pemenang ditentukan oleh disks dengan warna yang jumlahnya paling banyak, maka kali ini pemenang ditentukan oleh disks dengan warna yang jumlahnya paling sedikit”

Akashi tersenyum masam. Bukan hal yang mudah untuk membuat jumlah disks menjadi sedikit. Lawannya kali ini memakai otaknya dengan sangat baik.

“Kedua, aku akan menambahkan permainan Russian Roullete disini”

Shiro melempar sebuah revolver Rusia M1895 Nagant ke arah Akashi. “Masing-masing dari kita membawa satu revolver. Aku tidak perlu menjelaskan cara bermain Russian Roullete. Kuyakin kau sudah mengetahuinya”

Akashi menarik silinder revolver. Matanya terbelalak melihat keenam ruang sudah diisi oleh peluru.

“Simpan 5 buah diantaranya. Tidak boleh menembak kepala, jantung, paru-paru, dan organ penting lainnya”

“Kau takut mati, Queen?”

“Kau punya sembilan nyawa, Emperror? Ingin bermain seperti zombie hingga permainan selesai?”

Seringai menghiasi wajah sang Emperror. “Lanjutkan,” ucap Akashi.

“Ketiga, setiap giliranmu dan giliranku selesai, pemain dengan jumlah disks paling sedikit berhak menarik pelatuk satu kali kepada pemain dengan jumlah disks paling banyak. Aku menggunakan warna merah, kau menggunakan warna putih”

Suasana mulai tegang. Satu per satu siswa mulai meninggalkan ruangan, sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi dalam permainan itu. Hingga menyisakan beberapa murid yang tertarik dengan jalannya permainan.

“Terakhir… Mari kita mulai!”

Empat buah disks berkumpul di tengah papan, membentuk formasi awal. Shiro mengisyaratkan agar Akashi memulai permainannya. Sebuah disks di samping Akashi terangkat dan mengarah menuju papan, disusul dengan disks lain yang membalik sisinya.

Tanpa strategi rumit, Shiro melakukan hal serupa dengan Akashi, yang tentunya akan menghasilkan jumlah disks yang sama. Permainan berjalan dengan baik hingga tiba-tiba Akashi mengangkat revolvernya.

“Tiga – lima, Queen”

Akashi mengarahkan moncong revolvernya tepat ke kepala Shiro. Sempat terlintas ekspresi terkejut di wajah Shiro, namun segera berubah menjadi tenang kembali.

Akashi menarik pelatuknya. Kosong.

“Sungguh besar nyalimu, Emperror. Berani membidik kepalaku tanpa ragu,” tukas Queen dengan nada kesal.

“Karena aku yakin, tembakan pertama adalah kosong”

Permainan kembali berlanjut dan Akashi mendapatkan kemenangan sementaranya lagi dengan poin empat – enam. Kali ini Akashi membidik ke arah jantung Shiro.

“Berhenti bermain-main, Emperror!”

Akashi tertawa. “Kau takut, Queen. Lagipula kita memang sedang bermain,” balas Akashi enteng. Akashi tetap tidak mengubah bidikannya dan segera menarik pelatuknya. Kosong.

“Kau harus memenangkan permainan ini jika kau ingin mengetahui tujuanku yang sebenarnya menantangmu”

Akashi diam tak menjawab. Disks kembali terangkat dari sisi Akashi dan Shiro bergantian. Posisi mulai berbalik. Shiro mendapat kemenangan sementaranya. Segera mengangkat revolvernya, Shiro langsung menarik pelatuk.

Dor!

Suara riuh terdengar dari siswa yang sedari tadi menonton dalam diam. Tembakan pertama Shiro berisi peluru, tepat mengenai lengan kanan Akashi.

“Kau harus lebih berhati-hati, Emperror,” ujar Shiro memperingatkan Akashi seraya memasukkan sebuah peluru ke dalam ruang di silinder dan memutarnya.

Dengan perasan geram, Akashi segera memulai gilirannya, membuat disks melayang dengan sangat cepat dan terlempar di sembarang kotak di atas papan. Kecerobohannya membuat Shiro mengambil alih permainan dengan memenangkan dua kali giliran yang berarti Shiro memiliki dua kesempatan untuk menembak Akashi. Dan Akashi harus bersyukur karena dua bidikan yang diarahkan padanya tidak berisi peluru.

Rasa nyeri yang dirasakan Akashi pada lengan kanannya tak membuat Akashi patah semangat. Buktinya, ia berhasil mendapatkan kembali kemenangan sementaranya. Susah payah Akashi mengangkat revolvernya, memaksa tangan kanannya untuk menembak.

Dor!

“Sial,” umpat Akashi pelan. Ia merasa bahwa tembakannya meleset. Padahal belum tentu ia akan mendapat kesempatan lagi untuk menembak dengan peluru dan bukannya kekosongan.

Sementara Akashi sedang mengisi peluru ke dalam ruang di silinder, Shiro terbatuk cukup keras dan memuntahkan darah. Akashi terkejut melihatnya. Ke arah mana tadi dia menembak?

Shiro memegang perut sebelah kanannya yang mengeluarkan darah cukup banyak. Tersenyum puas, Akashi merasa kekesalannya terbalaskan dengan sangat baik. Ini membuktikan bahwa tembakan melesetnya membawa keberuntungan. Bidikan Akashi hampir mengenai liver Shiro.

“Kuharap rohmu tidak meninggalkan tubuhmu, Queen”

“Wahai Emperror yang baik hati, akan segera kubalas perbuatanmu”

“Tak akan kubiarkan”

Sayang sekali ucapan Akashi tidak dapat terealisasikan. Selama lima giliran berturut-turut, Shiro terus mendapatkan kesempatan untuk menembak Akashi. Dan dua diantaranya melukai kaki kiri dan tangan kiri Akashi. Darah yang terus mengucur dari luka yang terbuka membuat Akashi tidak dapat mempertahankan posisi berdirinya.

“Kalau kau kalah, aku berhak untuk menembak kepalamu,” ucap Shiro tiba-tiba.

“Apa-apaan itu?!”

“Tentu saja, kalau aku kalah, kau juga berhak untuk menembak kepalaku”

Akashi menggeram kesal. Dari awal Shiro sama sekali tak memberitahunya jika yang kalah harus benar-benar mati. Semuanya menjadi semakin rumit dan tidak jelas. Disks tersisa dua buah. Tidak ada rasa optimis lagi dalam diri Akashi.

“Bagaimana dengan penjelasan tentang tujuanmu menantangku?”

“Itu juga akan kau dapatkan jika kau menang”

Akashi terdiam sesaat. Kini bukan kemenangan yang ia kejar, melainkan kekalahan. Dua giliran terakhir berjalan dengan cepat. Kemenangan mutlak dipegang oleh Shiro dengan nilai empat belas – dua puluh dua. Disks menghilang begitu saja, lapangan gym tidak lagi menjadi papan permainan.

Shiro berjalan tertatih-tatih dengan revolver digenggamannya, mendekat menuju Akashi untuk mendapatkan ‘hadiah’nya. Moncong revolver hanya berjarak beberapa senti dari kepala Akashi.

“Ada permintaan terakhir, Emperror?”

Akashi menyeringai mendengarnya. “Aku ingin menantangmu,” ucap Akashi mantap.

“Ap- Apa? Tidak bisa! Bagaimana kalau-”

“Kalau aku kalah lagi, kau boleh menyiksaku sebelum membunuhku. Kalau aku menang…” Akashi menggantung kalimatnya.

“Baiklah! Terserah kau saja, yang penting kau berhutang nyawamu padaku!”

“Tic-Tac-Toe”

Seperti Shiro tadi, setelah Akashi mengucapkan nama permainan, muncul gambar sembilan kotak di atas lantai antara Akashi dan Shiro. Shiro memulai permainan dengan menggoreskan bentuk silang di atas lantai menggunakan darahnya. Sedangkan Akashi menggoreskan bentuk lingkaran.

Tak sampai lima menit, permainan sudah berakhir. Akashi menarik garik lurus melewati tiga bentuk lingkaran. Shiro menghembuskan nafas kesal.

“Apa maumu?!” tanya Shiro ketus

“Tujuanmu menantangku. Jelaskan”

“Tidak ada”

Keheningan terjadi beberapa saat. Bisa diulangi?

“Apa?”

“Tidak ada! Tidak ada ya tidak ada. Aku hanya ingin bersenang-senang”

Akashi ternganga dibuatnya. Nyawa dipertaruhkan hanya untuk sesuatu yang ‘tidak ada’? Ijinkan Akashi untuk membunuh dirinya sendiri.

“Sudahkan? Itu saja?” tanya Shiro sambil mengangkat revolvernya, siap untuk menembak lurus menuju dahi mulus Akashi.

Akashi ingin memprotes, ia memenangkan permainan, berarti ia juga berhak untuk membidik kepala Shiro. Namun semuanya sudah terlambat. Akashi sudah tersungkur dengan darah mengucur dari kepalanya. Teriakan heboh dari siswa yang menonton mengalihkan fokus Shiro.

“Ah, semuanya, terima kasih sudah melihat pertarungan kami,” ucap Shiro dengan suara keras dan senyum manis.

“Semuanya sudah selesai… Di sini..” gumam Shiro pelan.

終わり?
Owari?

 

 

 

 

おまけ (Extra)

Aomine membolak-balik majalahnya sampai hampir robek. Perasaan tidak tenang terus mengusiknya. Dengan kesal, ia melempar majalahnya ke sembarang arah. Aomine mengganjal kepalanya dengan tangan kanan dan mulai memejamkan matanya.

“Aomine-san”

“Astaga! Tidak bisakah aku memperoleh ketenangan untuk sebentar saja?!”

Kekesalannya lenyap saat Aomine melihat sosok yang memanggil namanya. Seorang gadis bertubuh kecil dengan mahkota di kepalanya.

Mengenakan seragam Touo? Siapa? Kurasa hanya Satsuki yang tahu kalau aku biasanya ada di atap, batin Aomine.

“Kau siapa? Apa maumu?” tanya Aomine malas.

“Perkenalkan, namaku Shiro. I’m a Queen. Aku datang untuk menantangmu.. Aomine Daiki.. Senpai!”

Advertisements

Snow Revenge (Save or Kill Me)

Snow Revenge (Save or Kill Me)

37592_anime_girls_anime_girl_in_snow.jpg

雪の復讐(保存するか、殺します)

DISCLAIMER :
Character © Yumeka Himuro
Snow Revenge (Save or Kill Me) © Yumeka Himuro
Cover pic © http://www.wallpapervortex.com

GENRE : Supranatural, Hurt-Comfort, Drama

RATE : T

WARNING : alur kecepatan dan gak jelas, banyak dialog

NOTE : Lanjutan Snow Revenge ini aku jadikan hadiah Natal untuk Elsya Faradila \(^O^)/ Mangap postnya baru hari ini m(_ _)m Merry Christmas XD #telat

Read this first Snow Revenge

HAPPY READING !!

Damn that stupid brat.

Sudah satu jam lebih dan dia masih belum menampakkan batang hidungnya.

Tapi aku tidak hanya duduk diam dan melihat orang-orang berlalu lalang seperti orang atau mungkin lebih tepatnya hantu bodoh. Berkat keterlambatannya, aku sempat mendapatkan mangsaku hari ini. Gadis yang lumayan cantik dan bertubuh jangkung.

Aku melihat ke arah jam besar yang berada di tengah taman. Jika lima menit lagi dia masih belum datang, akan kutinggal pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di rumah. Jangan kau pikir hidupku sebagai hantu hanya bersantai melayang kesana kemari sesuka hati. Siapa yang mengurus rumah bertingkat tiga dengan halaman depan dan halaman belakang yang mirip hutan jika bukan aku.

Okay, sudah lima menit.

Ketika aku hendak berdiri, seseorang menepuk pundakku.  “Omatase (Maaf membuatmu menunggu)

Sosok dengan suara baritone dan senyum lebar duduk di sebelahku. Aku melempar tatapan kau-siapa-dan-kenapa-duduk-di-sini padanya.

Mengo mengo~ {kebalikan dari gomen} (Maaf maaf~) Aku dihukum sensei untuk membersihkan toilet”

Aku tetap diam, tidak berminat merespon ocehannya. Toh tatapanku juga tidak diresponnya.

“Ah ya, tidak kusangka kau benar akan datang ke tempat ini,” ucapnya dengan nada senang. “Menurutku kau adalah orang yang unik. Dan karena mengajakmu mengobrol di sekolah kurasa akan sia-sia,  makanya aku mengajakmu ke sini”

“Namaku Itsuki Kazuo. Aku duduk tiga baris dari kirimu dan dua baris di belakangmu”

Aku terkejut ketika dia memberitahukan posisi tempat duduknya. Bagaimana bisa dari jarak yang cukup jauh dia melempar kertas tepat ke mejaku.

“Kau pindahan darimana? Kau tinggal di apartemenkah? Apa kau punya peliharaan? Anjing atau kucing atau kelinci atau tikus atau burung hantu atau singa?”

Apakah Mezame termasuk hewan peliharaan? Kalau iya, aku akan buka mulut untuk menjawab pertanyaan terakhirnya.

“Hei, jangan diam saja dong. Aku seperti sedang berbicara dengan hantu. Atau orang akan berpikir jika aku gila”

Kau memang sedang berbicara dengan hantu dan kau sudah gila. Terima saja kenyataanmu.

“Ngomong-ngomong… Kau sudah tidak sepucat tadi. Kau habis menghangatkan diri di atas komporkah?”

Demi Zeus yang tidak membuangku ke dunia bawah, aku ingin menghajar orang ini.

Joudan desu~ (Aku hanya bercanda~)

Dan setelahnya hanya ada keheningan. Ini lebih baik daripada mendengarnya berbicara hal tidak penting dari alfa sampai omega. Tapi bukan berarti aku betah berlama-lama dengannya. Dengan tidak rela, aku membuka mulutku sedikit.

“Sudah sore, aku ingin pulang”

Tiba-tiba saja si bodoh Itsuki melompat dari duduknya dan menunjuk heboh ke arahku.

“Kau akhirnya berbicaraaa! Yattaaa!! {ungkapan senang}

Aku berdiri dan berjalan pelan menjauhi dari si bodoh Itsuki. Meninggalkannya yang melompat-lompat senang hanya karena aku berbicara lima kata saja. Hingga dia kembali menepuk pundakku, menghentikan langkahku dan menatap kesal ke arahnya.

“Besok kita bertemu di sini lagi ya!”

“Sediakan tumbal untukku kalau itu keinginanmu,” ucapku setengah serius setengah bercanda.

“Kutumbalkan diriku hanya untukmu,” ujarnya dengan tangan kiri berada di dadanya dan tangan kanan diulurkan ke arahku. Menjijikkan.

 

***

Hari-hariku mulai berjalan tidak normal. Dimulai dengan gangguan Mezame di pagi hari, sekolah yang penuh dengan pembulian, dan sore hari yang penuh keberisikan. Setiap pulang sekolah, Itsuki selalu menyeretku ke taman kota. Setelah kematian pun, tidak ada hari tenang bagiku.

Aku membereskan alat tulisku dan memasukkannya ke dalam tas. Kelas sudah sepi, hanya ada aku dan Itsuki yang sibuk membersihkan papan tulis.

Sore ini aku akan mengerjakan tugas kelompok di rumah Itsuki. Dia langsung menyerukan namaku ketika sensei memerintahkan untuk membentuk kelompok dua orang. Aku hanya bisa menghela nafas pasrah. Membayangkan mimpi buruk karena harus bersama dengannya lebih lama.

“Yuu-chan, ayo pulang!” serunya sambil menggandeng lenganku keluar gerbang sekolah.

“Aku bisa jalan sendiri,” ujarku, berusaha melepaskan gandengannya.

“Tidak, nanti kau tersesat”

“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil”

Itsuki sama sekali tidak mendengarkanku dan malah mempercepat langkahnya, membuatku agak terseret karenanya.

 

***

Tadaima! (Aku pulang!)

Aku melihat ke sekeliling rumahnya. Sangat sepi dan agak kumuh.

“Kau memberi salam pada siapa?” tanyaku pada Itsuki yang melemparkan tasnya ke sofa.

“Hm? Pada penunggu rumah ini, mungkin. Haha,” jawabnya asal disertai dengan tawa bodohnya.

Sebenarnya, rumah Itsuki memang ada penunggunya. Seorang nenek yang duduk di sofa tepat dimana Itsuki melemparkan tasnya. Nenek itu tersenyum hangat ke arahku. Mau tak mau, aku membalas senyumnya. Kurasa hanya aku yang bisa melihat nenek itu.

“Kau tinggal sendiri?”

Itsuki yang sedang mempersiapkan meja untuk tempat kami mengerjakan tugas menoleh ke arahku. Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Tidak. Aku tinggal bersama ayahku. Tapi dia jarang berada di rumah”

Setelah Itsuki selesai dengan mejanya, aku mengeluarkan buku dan alat tulisku, lalu mulai mengerjakan tugas yang menjadi bagianku. Itsuki terus saja merengek agar aku tidak terlalu serius dalam mengerjakan tugasnya dan kuberikan tatapan mati-saja-kau. Ia akhirnya diam dan mulai mengerjakan bagiannya.

Hingga tiba-tiba gangguan lain terdengar dari depan rumah. Suara pintu yang dibanting dan benda pecah tidak membuat Itsuki bergeming. Seolah itu sudah biasa ia dengar ketika sosok yang baru datang itu berulah.

“Yo Kazuo!”

Aku melihat Itsuki. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi ceria dan bodoh yang menjadi andalannya ketika sedang bersamaku.

“Heeeii~! Kau membawa pulang seorang gadis rupanya~”

Sosok itu mendekat ke arahku. Tercium bau alkohol yang menusuk. Kurasa dia ayah Itsuki. Pemabuk.

“Kau cantik sekali”

Bapak tua bau alkohol itu mengangkat daguku, membuatku melihat wajahnya.

O-orang ini..

Mataku membelalak lebar, tanganku mengepal erat. Aku ingat orang ini. Hidupku tidak pernah tenang karena orang ini.

Si brengsek ini mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku sudah siap memukulnya ketika Itsuki tiba-tiba mendahuluiku. Itsuki menghajarnya hingga tersungkur di lantai, sementara ia menarikku ke belakang tubuhnya.

“Jangan sentuh dia! Keluar kau dari rumah ini! Kau sudah menyakiti Kaa-san, takkan kubiarkan kau menyakiti gadisku!”

“Tch! Sadar diri kau, Kazuo! Rumah ini aku yang beli! Kau tidak akan bisa mengusirku dari sini!”

Itsuki membereskan buku dan peralatan tulisku. Ia membawa tasku dan menggandengku keluar dari rumahnya. Terasa dari genggaman tangannya, ia masih menahan amarah yang belum ia luapkan seluruhnya.

“Maaf, tidak seharusnya aku mengajakmu kerumahku,” ucap Itsuki menundukkan kepalanya.

Seharusnya aku berterima kasih padamu, karena setelah ini kuyakin jiwaku tidak akan gentayangan lagi di dunia ini setelah bertemu ayah bejatmu itu.

“Akan kuantar pulang”

“Tidak usah,” selaku cepat.

“Tapi..” Itsuki menatap khawatir ke arahku.

Aku mengambil tasku dari tangannya. “Karena tugas kita masih banyak, besok selesaikan di rumahku saja”

Dengan itu, aku berjalan meninggalkannya. Ia hanya diam menatap punggungku yang menjauh, menghilang dari pandangannya.

 

***

 

“Whoaaa…. Rumahmu besar sekali, Yuu-chan”

Itu kalimat yang dia ucapkan untuk kelima kalinya sejak memasuki gerbang hingga berada di ruang tamu.

“Ucapkan sekali lagi dan kau akan dapat piring cantik”

“Yuu-chan, rumahmu besa Ittai! (Aduh!)

Gotcha! Buku melayangku sukses mendarat di kepalanya.

“Hei, aku boleh berkeliling?” tanya Itsuki penuh semangat sambil melompat-lompat.

“Setelah tugasnya selesai”

Mendengar syaratku, Itsuki segera membongkar tasnya dan mulai mengerjakan dengan asal. Aku memukul kepalanya dengan buku yang kulempar tadi.

“Kerjakan dengan benar, bodoh”

Itsuki menangis bombay dan merengek agar diijinkan berkeliling. Apa bagusnya rumah ini. Lebih mirip kastil vampir yang penuh tengkorak dan kelelawar.

“Baiklah, hanya lima belas menit”

Itsuki langsung tancap gas, berlari menuju ruang keluarga. Kembali ternganga dan menghampiri semua furnitur yang ada. Hingga ia sampai pada rahasia besar yang selama ini kusembunyikan.

Foto keluarga.

Sugee… (Keren…) Tampak seperti keluarga kerajaan. Yang itu pasti ayah Yuu-chan, yang itu ibunya. Berarti yang ditengah itu Yuu-chan. Waaaa, kawaii~

Berdecak kagum, Itsuki mendekat untuk melihat lebih jelas foto besar dengan bingkai mewah yang menjadi pusat perhatian di ruang keluarga. Itsuki membaca nama yang tertera di kotak nama di bawah foto tersebut.

“Yuu Ryunosuke.. Yuu Inoue.. Yuu.. Eh? Namanya benar hanya Yuu saja? Tapi kotak namanya masih ada sisa”

Itsuki mengusap kotak namaku dengan ibu jarinya.

Reika Yuu.

“Reika Yuu.. Kenapa marganya di belakang? Seharusnya kan Yuu Reika. Yuu.. Rei.. Ka.. Yuurei ka?! (Hantu?!)

“Ya, Itsuki?”

Itsuki menoleh cepat ke arahku. Dilihat dari matanya, jelas sekali ia sangat terkejut melihatku, melayang.

“Kau.. Kau hantu? Kau bercanda kan? Kau mendadak jadi ahli sulap? Haha…”

Aku tersenyum kecil ke arahnya.

“Boleh aku bercerita sesuatu? Kau adalah orang yang gigih untuk berteman denganku. Kurasa ini balasanku atas usahamu itu”

Aku agak menjauh darinya, duduk di salah satu sofa kecil dan kembali melempar senyum padanya. Entahlah, hari ini aku merasa senang sekali.

“Musim dingin empat belas tahun lalu, tepatnya saat aku masih berumur empat tahun. Aku membuat banyak boneka salju di halaman depan”

Itsuki mengerutkan keningnya.

“Jangan kau bayangkan halaman depan yang sekarang. Itu lebih seperti hutan. Halaman depanku dulu cantik sekali”

“Ah, kembali ke boneka salju. Saat itu, aku ingin menunjukkannya pada Kaa-chan dan Tou-chan. Tapi mereka tidak ada. Menurutku mereka ada di halaman belakang, dan ternyata benar!”

Aku menggerakkan kakiku senang. Seolah aku kembali ke waktu lampau.

“Tapi yang kutemukan di sana tidak hanya Kaa-chan dan Tou-chan saja. Aku menemukan salju berwarna merah!”

Aku tertawa sambil bertepuk tangan senang. Itsuki memandangku ngeri. Ia mulai tahu kemana arah ceritaku.

“Yah, karena aku tidak tahu apa-apa, aku mencoba masa bodoh dengan salju merah itu. Aku memilih untuk menghampiri Kaa-chan. Tapi tangannya dingin sekali. Aku khawatir..”

Setitik air mata jatuh mengenai karpet. Disusul titik air mata lainnya. Jelas sekali Itsuki ingin menghampiriku. Tapi ia memilih diam di tempatnya.

“Kemudian aku bergeser ke sebelah Kaa-chan. Aku merengek pada Tou-chan yang sama diamnya seperti Kaa-chan. Ketika aku menggoyang tangan Tou-chan, tiba-tiba tangannya patah!! KYAAAAAAAA!!!!!!”

Aku menjerit keras, membuat Itsuki terkejut lebih dari sebelumnya. Aku menutup telingaku dan memejamkan mataku erat. Bayangan itu terlintas lagi.

“Ka-kaki.. ku.. Lemas… Aku jatuh terduduk… Saat itu juga.. Aku menyadari jika nasibku.. Tidak jauh berbeda dengan Kaa-chan.. Dan Tou-chan…”

Aku mendongak. Menatap lurus ke arah mata Itsuki. Nafasku masih terasa memburu.

“Aku tidak tahu mengapa hanya Kaa-chan dan Tou-chan yang bisa melanjutkan perjalanan mereka menuju kehidupan yang lain. Aku ingin ikut bersama mereka. Tetapi sesuatu menahanku di dunia ini”

“Dan aku akhirnya menemukan apa yang membuat jiwaku tidak pernah tenang. Yaitu pembunuh yang sudah merenggut nyawa keluargaku. Kau tahu siapa?”

Aku melayang cepat ke hadapan Itsuki. Rasa marahku seolah membakar seluruh tubuhku.

“AYAHMU!! AYAHMU YANG SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPKU DAN ORANG TUAKU!! AYAHMU- KYAAAH!”

Tubuhku terpental membentur dinding ketika aku mencengkeram kerah Itsuki. Aku teringat suatu pesan jika aku tidak boleh menyakiti siapapun di dunia ini kecuali si pembunuh itu.

“Ayahmu tidak tahu diri! Ayahmu memiliki hutang yang sangat banyak pada Tou-chan! Tapi Tou-chan tidak pernah memerintahkan anak buahnya untuk memukuli ayahmu ketika dia bukannya membayar hutang, tapi malah menambah hutangnya!”

Aku menangis sejadi-jadinya. Kakiku menendang ke segala arah, melemparkan semua benda yang ada di dekatku. Aku merasakan kini jiwaku ketika berumur empat tahunlah yang mengambil alih peranku di sini.

Itsuki berjalan mendekatiku. Ia mengulurkan tangannya, kemudian memelukku erat.

Tangisanku benar-benar terdengar seperti tangisan seorang anak kecil. Emosiku yang selama ini kupendam bertahun-tahun akhirnya dapat kuluapkan seluruhnya.

“Aku benci ayahmu! Akan kubunuh ayahmu!”

Itsuki mengusap rambutku dan mempererat pelukannya. “Kalau kau membunuh ayahku, kau akan masuk ke neraka bersama dengannya”

“Hiks.. Aku tidak peduli.. Aku merindukan Kaa-chan dan Tou-chan

Aku terus menangis. Itsuki tidak tahu harus berbuat apa agar membuatku tenang. Hingga aku merasa pusing dan akhirnya kegelapan menyambutku.

 

***

 

Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Sudah kuputuskan, malam ini semuanya akan kuakhiri.

Setelah terbangun dari pingsanku tadi, aku tetap kukuh dengan niatku untuk membunuh si brengsek itu. Itsuki mengancam akan mengexorcistku jika aku nekat membunuh ayahnya.

Hah! Aku tak peduli. Dia mau melakukan exorcist atau tidak, masih ada Mezame yang bisa menjadi penggantiku untuk membunuh ayahnya.

Aku sudah mengutus Mezame untuk memastikan apakah si brengsek itu ada dirumahnya. Dan Mezame mengangguk dengan pasti. Dia juga menambahkan jika si brengsek itu kembali bertengkar dengan Itsuki.

Kini aku berada di depan rumah Itsuki. Bersama Mezame yang menjadi pemeran utama dalam rencanaku. Aku melirik ke arah Mezame sekilas.

“Kau yakin, Yuu-chan?”

“Yakin! Lakukan sekarang!”

Mezame mengubah wujudnya menjadi roh api. Dalam sekejap, dia sudah melahap bagian depan rumah. Aku melihat nenek penunggu rumah itu keluar dan berjalan menuju ke arahku. Nenek itu berdiri di sampingku dan berbicara dengan suara pelan.

“Kau sedang membalas dendam? Aku melihat roh api itu memeluk ayah Kazuo dengan erat”

Aku tersenyum mendengar nenek itu menceritakan dengan jelas apa yang terjadi dalam rumah itu.

“Kasihan Kazuo. Dia tidak salah apa-apa tapi juga harus terlahap api”

Aku terkejut ketika nenek itu berkata lagi. Kazuo? Terlahap api? Itsuki!

Aku berlari masuk, melihat ke setiap ruangan, mencari keberadaan Itsuki. Dan aku menemukannya. Ia terbatuk-batuk karena asap tebal yang mengepul.

Cukup bersyukur karena aku adalah hantu, aku dapat dengan mudah membawa Itsuki keluar dari rumahnya yang mulai hancur. Aku berteriak memanggil Mezame untuk menyudahi aksinya. Sempat kulihat bagian belakang rumah mulai terbakar. Suara panik tetangga juga sudah mulai terdengar.

Obaa-san (Nenek), terima kasih, dan maaf. Aku harus segera pergi”

Aku dan Mezame yang sudah kembali ke wujud jam wekernyamembawa Itsuki yang pingsan kembali ke rumahku.

 

***

 

“Aku… Dimana..? Ah! Kebakaran!!”

Itsuki berteriak heboh, masih belum menyadari keadaan disekitarnya.

“Rumahmu memang terbakar. Tapi kau selamat,” ucap Mezame.

“Jamnya bisa bicara!!”

“Bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Berisik sekali,” protes Mezame kesal.

“Lalu ini dimana?”

“Kamar Yuu-chan”

“Dimana Yuu

“Aku di sini”

Aku berdiri di ambang pintu kamarku. Itsuki melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan kosong, tatapan bingung, tatapan terkejut, menjadi satu.

“Kau sungguh membunuh ayahku?”

“Tentu saja”

Itsuki tersenyum kecil. Ia senang jika aku membunuh ayahnya?

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya tanpa melepaskan senyumnya.

“Lega”

Aku berjalan memasuki kamarku, mendekat ke arah kasur. Itsuki menatap gelas yang kusodorkan padanya sebelum akhirnya menerima dan meminumnya.

“Kau bisa gunakan buku pelajaranku. Kau juga bisa tinggal di sini. Ada baju sepupu laki-lakiku yang bisa kau pakai,” ucapku tiba-tiba.

Itsuki menatapku dengan tatapan bingung.

“Tugasku sudah selesai. Lihat?” Aku menunjukkan kakiku yang mulai menghilang.

“Kehidupanku yang lain sudah menantiku”

Aku memegang tangan Itsuki. Untuk yang terakhir kalinya.

“Terima kasih”

Dan seluruh tubuhku perlahan mulai menghilang, menyisakan sepercik debu cahaya yang menjadi tanda kepergianku.

 

終わり
Owari

 

 

 

 

おまけ (Extra)

“Oi! Mezame, hentikan tangisanmu!”

Itsuki melempar bantal ke arah jam weker hidup itu.

“Hiks.. Aku merindukan Yuu-chan..”

Sudah sebulan lewat sejak kebakaran itu terjadi. Itsuki akhirnya memilih tinggal bersama Mezame dan mengurus rumah keluarga Yuu. Teman sekelas Itsuki seolah tidak pernah mengenal sosok bernama Yuu. Jejaknya benar-benar hilang.

“Lalu jika kau menangis seperti itu, Yuu akan kembali ke rumah ini?”

Mendengar pertanyaan seperti itu, Mezame menangis semakin kencang dan berlari keluar dari kamar Itsuki.

Itsuki menghela nafas. Hari libur baru saja dimulai. Ia sudah siap untuk membersihkan rumah dari lantai satu hingga lantai tiga. Tapi sesuatu menghambat niatnya. Tuan sapu menghilang.

“Mezamee!! Dimana kau letakkan sapunya?!”

Tak butuh waktu lama, sang sapu sudah muncul di depan matanya.

“Ah, ariga– (terima ka)

Sosok gadis kecil tersenyum senang. Ia memegang gagang sapu itu.

“Itsuki-kun, tadaima~ (Aku pulang~)

Choose One! (Akashi x Reader x Aomine)

Choose One! (Akashi x Reader x Aomine)

Bad Boy Akashi Aomine

選んで 一人

DISCLAIMER :
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Choose One! © Yumeka Himuro
Cover pic © weheartit.com

GENRE : Romance, School Life

RATE : T

WARNING : OOC, alur kecepatan dan gak jelas, banyak dialog

NOTE : Fiction ini aku buat untuk Keyren a.k.a Keyzawa Akumi yang tak lain dan tak bukan adalah pacar Aomine dan istri Akashi #eaak

HAPPY READING!

 

Mendapatkan perhatian khusus,

 

Dari orang yang menjadi pusat perhatian di sekolah,

 

Bukanlah hal yang kuinginkan.

 

Terlebih jika hal itu membawa berbagai bencana…

 

***

 

Ah, sungguh pagi yang suram. Baru setengah perjalanan menuju sekolah, awan gelap sudah menggantung di langit. Kau mempercepat jalanmu, tidak ingin air hujan memandikanmu untuk kedua kalinya.

“Akhirnya! Dua blok lagi dan aku akan sam– ”

Rintik hujan mulai turun.

“–pai. Sial!”

Kau segera berlari. Tak peduli seragammu basah, yang penting tidak terlambat. Hingga kau mendengar seseorang meneriakkan namamu di tengah gerimis hujan. Mengenali suara beratnya, kau mempercepat larimu. Mudahnya, kau menghindarinya.

“Oi, (Name)!”

Langkah kakinya terdengar semakin dekat hingga akhirnya dia berada tepat disebelahmu. Ia menanyakan pertanyaan bodoh semacam ‘kau tidak membawa payung?

Kau menanggapinya dengan cuek. “Menurutmu?”

“Tidak. Pakailah payungku,” tawarnya sambil menyodorkan payung kecil berwarna slate blue yang masih terlipat.

“Terima kasih, tapi aku memilih untuk berlari”

TIN! TIN!

Sebuah Lykan Hypersport dengan warna crimson yang mengkilat berhenti di sebelahmu. Kau melihat sosok yang duduk di kursi pengemudi tengah menatapmu.

“Naiklah. Kau akan kuantar tanpa perlu kehujanan seperti itu,” ucapnya melalui kaca jendela yang diturunkan setengah.

Kau menggeleng pelan dan menggumamkan kata maaf. Melanjutkan larimu, kau meninggalkan dua sosok yang saling menatap dengan penuh kekesalan.

 

***

 

“(Name)-chan, musuhmu semakin banyak saja”

Kau menoleh ke arah jendela kelas, melihat sekumpulan siswi yang menatapmu tajam dan dipenuhi dengan aura gelap seolah ingin menerkammu.

“Tak peduli,” sahutmu cuek.

“(Name)-chaaaaan,” rengek sahabatmu sambil mengguncangkan badanmu pelan. “Kau apakan si dua tampan itu? Mereka melakukan one-on-one lagi. Setidaknya pedulilah dengan mereka jika kau tidak peduli dengan musuhmu”

Kau merinding ketika mendengar sahabatmu mengucapkan kata tampan. Tidak ada yang salah sih, toh mereka memang tampan. Tapi ketampanan itu luntur saat mereka berdua mulai dan terus mendekatimu.

Kau membereskan kotak makanmu, kemudian berjalan ke arah jendela yang menghadap lapangan. Mereka memang sedang melakukan one-on-one. Sang Ace dan Captain Generation of Miracle.

 

***

 

Bel pulang sekolah sudah berdering sejak sepuluh menit lalu. Kau masih berada di kelas, mengoreksi dua tumpuk kertas ulangan yang sensei serahkan padamu. Melihat ke arah jam sekilas, kau mempercepat koreksimu, mencatatnya ke dalam buku nilai, dan membereskan semuanya. Tugas lain masih menunggumu di taman belakang sekolah.

“Ah, Kuroko-kun!”

Kau melambaikan tangan ke arah Kuroko yang kebetulan melewati koridor kelasmu. Kuroko menggeser pintu kelas perlahan. Nigou mendahului masuk dan berlari ke arahmu.

“Doumo,” sapanya. “Kenapa kau belum pulang?”

“Aku baru saja menyelesaikan tugas dari sensei. Tolong bantu aku membawa tumpukan kertas itu ke ruang guru,” pintamu sambil menggendong Nigou.

Kuroko menjadikan satu tumpukan kertas ulangan dan meletakkan buku nilai di paling atas. Kau mengucapkan terima kasih dan dibalas senyum olehnya.

Setelah keluar dari ruang guru, kau menurunkan Nigou dari gendonganmu dan berpamitan pada Kuroko.

“Ne, Kuroko-kun, sekali lagi terima kasih. Aku harus segera pergi ke tempat lain. Jaa ne,” ucapmu sambil tersenyum dan berlari meninggalkannya.

 

***

 

Kau bersenandung riang, berjalan pelan menyusuri taman, mencari tempat yang cocok untuk kau jadikan objek lukisanmu. Dan akhirnya kau menemukannya. Bagian yang cukup tersembunyi dari taman belakang sekolah. Sebuah kolam kecil dengan banyak ikan koi dan kupu-kupu yang beterbangan di atas bunga yang mengelilingi kolam.

Kau meletakkan tasmu, duduk bersandar pada sebatang pohon besar, siap mengeluarkan peralatan melukismu hingga kau mendengar suara gaduh tak jauh di belakangmu.

“Yang bisa memiliki (Name) hanya aku”

“Jangan bodoh, Daiki. Kau bahkan belum menjadi kekasihnya. Lebih baik kau jauhi (Name) mulai sekarang. Perintahku adalah mutlak”

Setengah terkejut dengan pembicaraan mereka, kau mencoba mengintip dari balik pohon. Dan kini kau sukses terkejut sepenuhnya. Mereka yang tadinya hanya adu mulut, kini sedang adu fisik.

Akashi menendang Aomine hingga terjatuh. Aomine belum sempat bangun, namun Akashi sudah menarik kerah seragamnya. Akashi mengepalkan tangannya, siap melayangkan tinju ke wajah Aomine.

Meski dalam keadaan yang tidak seimbang, Aomine juga sudah siap untuk melayangkan tinju ke wajah Akashi.

Kau yang panik dengan apa yang terjadi, segera berlari ke arah mereka. Ini sudah keterlaluan, apa mereka sampai harus berkelahi hanya karena dirimu?

Akashi dan Aomine melayangkan tinjunya bersamaan. Kau memegang pundak keduanya, mencoba mendorong mereka untuk menjauh.

“Kumohon hentikan!”

Sayangnya, tinju mereka mendarat tepat di wajahmu. Kau merasakan sakit dan pusing yang luar biasa. Hidungmu mengeluarkan darah, kau merasakan darahnya yang menetes melewati bibirmu. Hingga akhirnya kau terjatuh dan pingsan.

 

***

 

Cahaya lampu memaksa masuk melewati kelopak matamu. Kau mengerjapkan matamu beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahayanya sebelum akhirnya kau dapat melihat dengan jelas.

Ah, ruang kesehatan, batinmu. Kau ingat dengan jelas apa yang membuatmu berakhir di ruangan dengan bau obat yang menyengat ini.

“Maaf”

Kau melihat dua sosok yang menatapmu dengan perasaan sangat bersalah. Ditatap seperti itu, kau tidak tahu harus marah atau merasa kasihan.

“Keluar,” perintahmu dengan suara pelan.

“Aku sungguh minta ma-”

“Kubilang keluar. Aku tidak ingin berbicara dengan kalian berdua,” ucapmu masih dengan suara pelan. Kau terlalu lelah untuk marah.

Akashi dan Aomine berjalan pelan menuju pintu. Setelah mendengar suara pintu yang digeser, kau menghela nafas.

Sungguh tidak habis pikir. Seorang Akashi dan seorang Aomine yang jika dilihat sekilas saja orang pasti akan paham jika mereka mempunyai harga diri yang begitu tinggi dapat membuang harga dirinya dalam sekejap. Apa yang ada di otak mereka, pikirmu.

Kau terus memikirkan tingkah bodoh mereka belakangan ini hingga kau kembali mendengar suara pintu yang kembali digeser. Kau melihat sosok bermata biru muda berjalan mendekati kasurmu. Kau tersenyum senang.

“Aku tak menyangka kau akan menjengukku. Baru tadi kita bertemu, tapi aku sudah sangat merindukanmu”

 

***

 

Esok hari menyambutmu dengan pagi yang cerah. Cukup cerah untuk membuatmu mengalami pusing yang tak jauh berbeda seperti kemarin.

Yah, mau tak pusing bagaimana. Baru sampai di gerbang sekolah, seseorang tiba-tiba membekap mulutmu dan sedikit menyeret tubuhmu ke taman belakang sekolah.

Sesampainya di taman, dia melepaskan tangannya dari mulutmu. Si bodoh Aomine. Dan ada Akashi di sana.

“Kau! Apa-apaan?”

“Kami ingin mengatakan sesuatu,” ucap Aomine dengan nada serius.

“Kami berdua menyukaimu. Tolong pilihlah satu diantara kami yang pantas untukmu,” ungkap Akashi terang-terangan.

Kau hanya diam. Berusaha mencerna dengan baik apa yang mereka katakan. Kau kaitkan semua peristiwa yang kau alami selama ini akibat mereka hingga hari ini. Mulai dari segala macam kebaikan dan perhatian hingga perkelahian yang mereka lakukan kemarin.

Sebenarnya kau sadar jika kebaikan mereka selama ini pasti ada sesuatu dibaliknya. Kau hanya tidak menyangka jika itu semua karena mereka memiliki perasaan khusus padamu.

“Apa yang membuat kalian menyukaiku?” tanyamu ragu. Apakah mereka sedang taruhan? Bisa sajakan, seperti di cerita novel atau fanfiction pada umumnya.

“Karena kau adalah inspirasi kami,” ucap keduanya bersamaan.

=======

Seorang gadis kecil tengah berkelahi dengan empat teman laki-lakinya. Mereka semua jatuh terkapar kecuali sang gadis.

“Kalian jangan coba-coba melawanku! Karena yang bisa mengalahkanku hanyalah aku!” Gadis itu berkata dengan penuh keyakinan sambil berkacak pinggang. Berdiri dengan tegak, menunjukkan bahwa ia lebih kuat dari temannya.

Tak jauh dari gadis itu, anak laki-laki berambut biru tua sedang mengintip dari balik tembok rumah di persimpangan jalan. “Sugee,” ucapnya tak melepaskan pandangan dari si gadis.

“Sebagai hukuman karena kalian mencoba melawanku, besok kalian harus membawakan tasku dan memberikan bento kalian padaku!”

“Tidak akan!” Salah satu dari anak yang terkapar mencoba melawan gadis itu. Namun dengan cekatan, gadis itu segera menerjang anak tersebut dan kembali memukulnya.

“Perintahku adalah hal yang benar! Kalian harus melakukannya karena aku sudah menang, dan kalian kalah”

Sementara itu, anak laki-laki berambut merah terang yang melihat kejadian itu dari halaman rumahnya yang megah tersenyum senang. “Gadis itu kuat”

=====

 

“Hanya karena itu?”

Aomine dan Akashi mengangguk, membenarkan pertanyaanmu.

Kau benar-benar tidak habis pikir jika perbuatan brutalmu waktu kecil justru membuat mereka menjadi seperti ini.

“Jadi?” Aomine membuyarkan lamunanmu.

“Siapa yang kau pilih?” Akashi menatapmu dengan penuh harap.

“Aku…”

Kau mengalihkan pandanganmu ke rumput hijau yang bergoyang ditiup angin. Bingung dan panik melandamu. Haruskah kujawab sekarang? Siapapun, tolong aku…

Kau menatap ke seluruh penjuru taman hingga akhirnya matamu menangkap sosoknya. Pemilik iris biru yang berjalan mendekat ke arahmu dari belakang Aomine dan Akashi.

“Aku memilihmu!”

Kau menunjuk ke arah sosok tadi dengan senyum senang menghiasi wajahmu.

“Woof!”

Sosok itu merespon dengan senang, berlari dan kemudian melompat ke dalam gendonganmu.

“Aaaaaah, Nigou-kun. Aku sangat merindukanmu”

“Woof! Woof!” sahut Nigou sambil menggoyangkan ekornya.

“Aku memilihnya,” ucapmu sambil menggendong Nigou menghadap Aomine dan Akashi. “Aku merasa nyaman bersamanya. Maafkan aku, Akashi-kun, Aomine-kun”

Kau membungkukkan badanmu sedikit, dan berlari meninggalkan keduanya yang tercengang atau mungkin mematung.

“Doumo”

Sebuah suara mengejutkan keduanya.

“Apakah Aomine-kun dan Akashi-kun melihat Nigou?”

 

終わり
Owari

Snow Revenge

Snow Revenge

life

雪の復讐

DISCLAIMER :
Character © Yumeka Himuro
Snow Revenge © Yumeka Himuro
Cover pic © s774.photobucket.com

GENRE : Supranatural, Hurt-Comfort, Drama

RATE : T

WARNING : alur kecepatan dan gak jelas, banyak dialog

NOTE : Fiction ini aku persembahkan buat sahabat tersayangku, Elsya Faradila yang pada tanggal 4 November kemarin berulang tahun \(^O^)/ Yeaaay!! Sungguh menyesal karena postnya baru hari ini m(_ _)m

HAPPY READING !!

“Wa… Salju!”

Seorang gadis kecil tampak bersemangat menyambut musim dingin. Rambut pirangnya yang diikat kuncir dua bergerak lucu seiring langkah kakinya yang bergerak cepat. Tak sabar untuk membuat sepasukan boneka salju yang akan menghias halaman depan rumah megah itu.

“Kaa-chan! Tou-chan! Hayaku! (Mama! Papa! Cepatlah!)” Gadis kecil itu berteriak sambil melambaikan tangannya.

“Kau duluan saja, sayang!” kata sang ibu.

Tak mau membuang waktu lagi, gadis tersebut meraup salju di dekatnya sebanyak mungkin, kemudian mulai membuat bola-bola salju dari yang kecil hingga yang besar. Ia tertawa riang. Sudah lima boneka salju yang berhasil ia buat. Ia berbalik, hendak memanggil kedua orangtuanya.

“Kaa-chan! Tou-chan!” Tak ada sahutan. Tak ada siapapun.

“Eh? Kaa-chan dan Tou-chan kok nggak ada? Ah! Mungkin mereka ada disana” Ia kemudian segera masuk ke dalam rumah dan berlari kecil menuju pintu yang mengarah ke halaman belakang. Ya, halaman belakang merupakan tempat favorit kedua orangtua gadis ini.

“Wah, ternyata memang benar ada disini,” gumam gadis itu senang. “Kaa-chaaan!  Aku sudah membuat banyak boneka salju!” ia berlari menghampiri kedua orangtuanya yang tampak sedang duduk di kursi panjang. Langkah nya mendadak terhenti. Gadis itu memicingkan matanya melihat sesuatu yang janggal.

“Loh, kok saljunya warna merah?” Gadis itu melanjutkan langkahnya perlahan, mendekati kursi panjang tersebut. Perasaan aneh mulai mendatanginya, namun segera ia buang jauh-jauh.

Setelah berada di samping kursi tersebut, gadis itu mencoba menggenggam tangan ibunya. Dingin. Namun dingin yang berbeda dari orang yang kedinginan di musim dingin.

“Tou-chan.. Tangan Kaa-chan  dingin.. Kaa-chan  kedinginan! Kok Tou-chan  diam saja sih? Tou-chan!” Gadis itu sibuk mengguncangkan lengan ayahnya yang tiba-tiba…

Klak!

Patah…

Ia menjerit ketakutan.

Sungguh gadis yang malang. Ia tak menyadari jika maut sudah siap memeluknya.

CRASH!

=====

KRIIIIINGGG !!

Aku benci jam weker. Bukan karena jam itu berisik dan mengganggu tidurku. Tapi karena jam itu hidup. Ya, hidup dalam konotasi yang sebenarnya.

Dan aku malas gerak. Apalagi yang harus kulakukan? Mematikan jam weker itu? Biarkan saja seperti itu  toh nanti juga akan–

“Hiks… Yuu-chan…”

–menangis. Aku beranjak dari tempat tidurku, memakai sandal selop, kemudian berjongkok. Mengintip di sela-sela kasur dan meja rias. “Keluar dari sana”

Kirai… (Benci…)” Jam weker itu melirikku.

“Apa? Siapa?” tanyaku tak terlalu peduli. Sebenarnya jelas sekali perkataannya itu ditujukan kepadaku.

“Kau.. Membenciku.. Hiks”

Tuh kan. Tepat sasaran.

Aku berdiri dan berjalan menuju lemari baju. Membukanya dan mencari seragam sekolah baruku. “Tidak,” jawabku singkat sambil melempar seragamku ke atas kasur.

Sekilas kulihat, Mezame –jam weker cengeng itu– sudah keluar dari persembunyiannya. Tidak lepas dari tangisannya.

“Hentikan tangisanmu. Aku harus segera mencari seseorang”

Mezame mendadak berlari ke arah kamar kosong disebelah kamarku. “Aku sudah mempersiapkannya untukmu,” ucapnya dengan senyum manis.

Kuhargai usahanya yang entah bagaimana caranya selalu bisa mendapatkan seseorang untuk kebutuhanku. Tapi tidak bisa dihindari juga kalau yang dia bawa pulang selalu orang yang tidak tepat.

Aku memutar kenop pintu dan mendorongnya. Seorang gadis yang mungkin sudah kuliah tampak tertidur di lantai dengan tangan dan kaki terikat serta mulut disumpal…. Kaus kaki?

“Terlalu tua, Meza–” Pandanganku mengarah pada sesosok makhluk kecil di atas kasur.

“Apa itu?” Aku melirik Mezame.

Baby~ Kawaii ka? (Bayi~ Imutkan?)” ujar Mezame sambil melompat-lompat mendekati kasur.

Menghela nafas, aku berjalan kembali ke kamarku. “Kembalikan bayi itu pada ibunya, Mezame. Dan singkirkan gadis itu”

“Singkirkan? Bagaimana?” Mezame mengintip dari balik pintu yang terbuka dengan menggendong bayi tadi.

“Hapus ingatannya bisa, kan?! Atau bunuh saja sekalian!” bentakku kesal.

Aku berjalan masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya. Mengabaikan Mezame yang terdiam melihatku.

***

Ohayou gozaimasu. Yuu. Yoroshiku (Selamat pagi. Yuu. Salam kenal)

Dan kelas mendadak hening.

“Yuu? Kau tidak memiliki nama kecil?”

“Tidak”

Melihat suasana yang semakin canggung dan awkward, sensei (guru) langsung mempersilahkanku untuk duduk. Paling depan. Kuso. (Sial)

Baru juga duduk, pesawat kertas sudah mendarat dengan mulus di mejaku. Aku membuka lipatannya dan membaca tulisan yang mirip sandi rumput.

‘Ini musim dingin. Kenapa kau tidak memakai jas mu?’

Tidak penting. Aku meremas kertas itu dan meletakkannya di ujung meja. Dan pesawat lain kembali mendarat di mejaku.

‘Kau pucat sekali. Sakit kah?’

Lagi, sebuah kertas melayang ke mejaku. Tanpa membacanya, aku langsung meremas kertas itu dan berdiri dari kursiku. “Sumimasen. (Maaf.) Aku ingin ke toilet”

Aku berjalan cepat dengan membawa kertas yang terakhir dan keluar tanpa jawaban dari sensei (guru). Sebodo amat, yang penting aku sudah ijin.

‘Temui aku di taman kota sepulang sekolah’

Aku membuang kertas itu dan berjalan menuju kantin.

***

Oke, sejauh ini kuyakin kalian 80% bingung dengan apa yang terjadi. Ijinkan aku memperkenalkan diriku lagi.

Aku, Yuu. Duduk dibangku SMA. Aku tinggal di sebuah rumah mewah. Hanya ada aku dan Mezame yang menghuni rumah angker itu.

Aku hidup dengan memakan roh gadis, setiap tahunnya sekali. Tujuannya sudah jelas, agar aku tetap hidup. Agar eksistensiku sebagai hantu berkurang, dan eksistensi sebagai manusia bertambah.

Hantu? Ya, kau sedang membaca kisah gadis hantu.

Dan sialnya aku belum sempat mencari mangsa hari ini. Maka dari itu aku pucat–sisi hantuku bertambah.

Lalu, ‘mengapa kau tidak memakai jas?’. Tentu saja karena aku hantu. Aku harus menjaga suhu tubuhku tetap dingin. Mumpung ini musim dingin. Walau sejujurnya aku sangat benci musim dingin melebihi musim panas.

Cukupkah? Aku harus segera pergi ke taman kota menemui secret admirerku.

つづく
To be Continued

[ ]

[     ]

18944-1280x1024

DISCLAIMER :
Karakter © Anime Moe-Ikemen (LINE Official Account)
[     ] © Yumeka Himuro
Cover pic © wallippo.com

PAIR : Q-Pai

GENRE : Romance, Fantasy

RATE : T

WARNING : alur kecepatan dan gak jelas, banyak dialog

HAPPY READING !!

Diariku yang manis,

       Selamat pagi! Entah mengapa hari ini aku merasa sangat gugup, juga senang. Rasanya seperti ada bom di dadaku yang akan meledak. Dan….. maafkan aku >o<” sudah 3 bulan ini aku belum mencurahkan kisah-kisahku. Bukan maksudku melupakanmu, tapi kini aku sudah memiliki kekasih.

       Namanya… Pai. Dia lebih tua setahun dariku. Dia sangat tampan. Setiap minggunya dia selalu memberiku hadiah kotak besar. Pada awalnya hadiahnya tampak normal, seperti gelang atau anting-anting yang cantik. Tapi lama kelamaan hadiahnya tampak mengerikan.

       Pernah sekali ketika aku membuka kotak darinya, yang kutemukan adalah pecahan kaca. Tak ada penjelasan darinya. Hanya senyum manis yang ia berikan. Dan minggu lalu aku mendapat beberapa cutter serta pisau. Aku merasa dia akan membunuhku. Haha.

       Umm.. aku tidak tau harus berkata apa lagi. Aku akan segera bersiap untuk pergi ke rumah Pai dan menerima kejutan darinya. Ehehe.. Salam sayang dari Q untuk ma kawaeh Diary :*

@@@

TING TONG!

Sudah tiga kali Q menekan bel rumah Pai. Dan untuk yang kesekian kalinya Q menarik dan menghembuskan nafas. Berharap ada orang di rumah yang akan membukakan pintu untuknya sebelum ia melakukan aksi nekat masuk lewat jendela.

“Sayaaaaaaaaaang,” terdengar teriakan maut dari dalam rumah Pai.

BRAK!

“Aku merindukanmuuuuuuuuu”

Q yang terlalu kaget hanya bisa bengong. Pertama, sejak kapan suara Pai menjadi melengking seperti itu. Kedua, pintu kayu yang bisa-bisanya bolong karena diterobos Pai. Apakah Pai mantan titan? Dan yang ketiga… Oke, lupakan untuk yang ketiga.

“Pai, kau–”

“Aku memiliki hadiah untukmu! Ayo ke kamarku”

@@@

Ryu, kakak Pai yang sedari tadi mendengar kehebohan dari dalam kamar kini tampak panik dengan ponselnya. Ia memencet beberapa tombol dan kemudian meletakkan ponselnya di samping telinga.

“Ck, kenapa engga diangkat sih,” kesalnya sambil terus berusaha menghubungi seseorang.

Maaf…’ Akhirnya terdengar suara dari ponsel Ryu.

“Ah iya, engga apa,” sahut Ryu cepat.

Nomor yang Anda tuju sedang sibuk

“SIALAN!” Ryu membanting ponselnya.

@@@

“Pai.. ini apa?” Q berdiri di ambang pintu kamar Pai, sedangkan Pai sudah melompat ke atas kasur.

“Apanya yang apa? Ini kamarku, Q” Pai membentangkan tangannya dan tersenyum bangga.

Q benar-benar takut sekarang. Bagaimana tidak? Kasur Pai penuh dengan pisau, dan bahkan ada pisau yang diduduki olehnya. Di lantainya juga tercecer beberapa cutter dengan berbagai ukuran. Psikopatkah Pai? Seperti di novel-novel dimana kemudian sang kekasih akan dikuliti dan organ tubuhnya dijadikan hiasan? Uh, membayangkannya saja sudah membuat merinding.

Dan diam seperti patung. Hanya itu yang Q lakukan. Apa yang harus ia perbuat? Masuk ke dalam kamar Pai? Menginjak ranjau cutter, begitu? Lucu.

“Q, ayo sini,” ucap Pai sambil menepuk.. kasur–berpisaunya.

Q menggeleng pelan. “Bagaimana kalau kau gendong aku saja. Dan kemudian dudukkan aku di…. kursi,” usul Q sambil menunjuk kursi meja belajar Pai.

“Tidak, jangan di sana,” Pai menghampiri Q dan menggendongnya. “Ada gunting yang tertancap di kursi itu. Aku tidak mau kau terluka”

Dengan hati-hati, Pai menurunkan Q di atas kasurnya. Q mencengkeram baju Pai erat, bahkan ketika ia sudah duduk dengan ‘aman’.

“Q, sampai kapan kau akan menarik bajuku? Kalau begini, aku tidak bisa mengambil hadiah untukmu”

“Ah, maaf,” Q melepaskan cengkeramannya.

Huaaah, dekat sekali wajahnya, batin Q panik. Daaan….

Cup!

Setelah mencium kilat pipi Q, Pai melompat-lompat mengambil sebuah kotak di samping lemari bajunya. “Ini diaaa!” seru Pai sambil mengangkat kotaknya tinggi-tinggi.

“Spesial untuk Q tercinta!” Pai meletakkan kotak itu di pangkuan Q. Dengan pandangan antara senang dan takut, Q memegang kotak bagian atas. Tangannya yang sudah berkeringat dingin membuka perlahan kotak tersebut. Berharap yang akan menyambutnya bukanlah boneka badut yang membawa pistol dan siap membidik kepalanya.

@@@

Kembali ke Ryu yang masih panik dengan ponselnya.

“Halo? Minami? Minami?!”

Iya iya. Aku sudah sampai di rumahmu

“Cepatlah! Sudah tidak ada waktu lagi!”

Bagaimana caraku masuk?

“Astaga, kau sudah lupa cara menggunakan pintu?”

Kau mau ku hajar, hah?! Pintu rumahmu rusak, aku masuknya bagaimana?

“Lewat pintu dapur, tidak dikunci!”

Panggilanpun berakhir.

@@@

Bingung, kaget. Itulah yang terjadi, Q menatap cukup lama ke dalam kotak pemberian Pai. Kosong, tidak ada apapun di dalamnya. Q mencoba memasukkan tangan ke dalamnya dan meraba dasar serta dinding kotak. Siapa tahu ada ruang rahasianya. Nihil.

“Pai, ini maksudnya… Apa…?”

Q mengangkat wajahnya dan mendapati Pai tidak ada dihadapannya. Q mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. “Pai..? Kamu dimana?” Q berdiri dan mencoba melihat keluar kamar dari pintu yang terbuka.

“Pai?” Kepanikan menghampiri Q. Kakinya terasa kaku, tangannya yang masih memegang kotak terasa berat.

“Ah, sudah terlambat”

Di ambang pintu, berdiri Ryu dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dan Minami yang khawatir tapi tampak tenang.

“Mi.. Minami-nee? Apa.. yang terlambat?”

Minami berjalan menghampiri Q dengan Ryu mengekor dibelakangnya. “Pai.. sudah tiada”

“Kotak yang kamu pegang, menyerap jiwa Pai ke dalamnya. Kotak itu selalu memakan jiwa dari anak setiap keturunan keluarga ini hingga tersisa satu orang anak saja. Jika kau mengetahui silsilah keluarga Pai, kau akan melihat nama yang dicoret atau dihapus. Dan itu semua karena kotak Sacrifice itu,” jelas Minami panjang lebar.

“Hah..? Apa? Lelucon macam apa itu? Mana mungkin ada kotak yang memakan tumbal. Minami-nee jangan bercanda. Mungkin belakangan candaan Pai dengan hadiah pisaunya agak kelewatan. Tapi ini sudah diluar batas wajar!”

“Itu bukan candaan, Q. Pai sengaja melakukan itu berharap kau takut dan membencinya sehingga kau tidak merasa hancur seperti ini saat kau tahu bahwa Pai diserap oleh kotak laknat itu.” Kini Ryu yang menjelaskan.

Air mata Q mulai menggenang di pelupuk mata. Apa yang harus ia tangisi? Percayakah Q dengan perkataan Ryu dan Minami? Haruskah ia menerima kenyataan tentang kepergian Pai yang tidak akan pernah kembali?

“Tidak.. Itu tidak mungkin. Kalian sudah gila! Paaai!!!! Dimana kau?!! Keluarlah! Pai…” Q menangis sejadi-jadinya. Minami melangkah mendekat dan memeluk Q. Mengusap pelan rambut Q berharap ia dapat sedikit tenang.

Ryu menatap Minami. Kita harus musnahkan benda itu.

======

Dua gadis yang tengah asik duduk di depan laptop meregangkan tubuhnya.

“Huaaah, aku tidak suka endingnya,” ucap gadis pertama.

“Iya, aku juga. Tapi katanya film itu dibuat berdasarkan kisah nyata”

“Hah? Yang benar?”

“Aku tidak tau. Kau percaya dengan kotak pemakan tumbal seperti itu? Seperti berada di jaman dulu saja,” ucap gadis kedua yang nampaknya tahu beberapa hal tentang film yang baru saja mereka tonton.

“Um! Kuharap kotak itu benar-benar musnah jika memang ada”

==Sementara Itu==

“Dasar, produser sinting. Siapa bilang aku mati. Jelas-jelas aku masih hidup.” Seorang laki-laki mengetuk-ngetukkan pisau ke atas meja.

Terdengar suara dari dalam kamar, seseorang membuka pintu perlahan. “Pai? Kau kah itu?” Ryu mengintip sedikit dari pintu yang ia buka.

“Ah, bodohnya aku. Mungkin aku sedang merindukannya.” Ryu menatap sekilas ke arah pisau yang ada di atas meja. Sejak kapan ada di sana? Dari lima tahun yang lalu, meja itu sudah kubersihkan dari benda apapun, batin Ryu.

“Sudahlah.” Ryu menutup pintu dan lagi-lagi terdengar suara ketukan dari dalam kamar.

終わり?
Owari?

 

Cerita ini sebenarnya dibuat untuk event yang diadakan sama OA di LINE. Dan akhirnya menang \(^O^)/ Juara 2, yeay XD Karakternya harus pakai nama admin di OA. Semoga sejauh ini gak ada yang bingung, Q itu cewe apa cowo, Pai itu cewe apa cowo. Karena aku juga gak tau *plok*. Q itu cewe, Pai cowo. Ryu? Cowo, Minami jelas cewe yah. Bocoran dikit biar lebih jelas. Minami itu siapa? Dukun keluarganya Pai gitu? Paranormal? Bukan~ Minami itu pacar Ryu. Udah lama pacarannya, jadi tau beberapa hal tentang kotak Sacrifice. Oh iya, tema fanfictionnya ini “Pandora” (bukan kotak Pandora yah). Menurut adminnya, Pandora itu sesuatu yang mengejutkan. Jadi jalan cerita yang diinginkan gak tertebak. Ini tertebak gak? ‘-‘)/

Romance Case

Romance Case

anime-girl-boy-hug-love-art

ロマンスケース

DISCLAIMER :
DM member © orang tua masing-masing
Romance Case © Yumeka Himuro
Cover pic © http://www.magic4walls.com

PAIR : Akumi-Tadakuni

GENRE : Romance, School Life

RATE : T

WARNING : OOC, alur kecepatan dan gak jelas, banyak dialog

HAPPY READING !!

 

Sebuah gedung sekolahan dan asrama berdiri dengan megahnya di suatu pusat kota. Namun entah mengapa, tidak banyak siswa yang ingin bersekolah di sana. Karena bangunannya yang sudah tampak tua kah? Tidak, itu tidak pantas dijadikan sebuah alasan. Karena rumor hantu yang selalu menghantui suatu kamar di asramanya kah? Tidak, itu bukan alasan yang logis. Lalu kenapa?

“Ma! Nanti kalau Akumi udah gede, Akumi mau masuk sekolah itu ya!” kata anak kecil berumur 6 tahun saat sedang berjalan-jalan bersama ibunya melewati gedung sekolahan tersebut.

“Loh, kenapa? Sekolah ini muridnya sedikit loh. Nanti kamu gak bisa dapat banyak teman,” kata sang ibu yang tampak tidak ingin anaknya bersekolah di sana.

“Gak apa-apa, ma. Akumi gak peduli sama teman. Akumi mau jadi detektif yang hebat!” kata anak itu bersemangat.

“Ya sudah, nanti saja kamu pikirkan hal itu lagi. Ayo, sekarang kita pulang”

Mungkin karena itu.. Karena sekolah itu adalah sekolah khusus untuk belajar menjadi detektif. Sakurasou Academy.

***

Hari ini Sakurasou Academy tampak berbeda dari biasanya. Boneka cupid, gambar-gambar hati dan pita-pita bewarna merah muda menghiasi sekolah ini. Tak lupa dengan setumpuk cokelat yang menjadi ikon utama hari Valentine.

Keyzawa Akumi, murid paling populer dan paling ceria seantero sekolah datang lebih pagi hari ini. Ia tak menyangka bahwa keinginannya sejak kecil untuk bersekolah di Sakurasou akhirnya tercapai juga. Susah payah ia membujuk kedua orang tuanya, meyakinkan mereka untuk percaya jika dengan bersekolah di sana, ia bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dan pastinya berguna untuk kehidupannya di masa depan. Terutama dalam mencari pekerjaan. Tentu saja, susah sekali bukan mencari pekerjaan yang membutuhkan jasa seorang detektif. Apalagi jika kita bukan detektif pro. Dapat dipastikan, nama kita akan tercantum dalam daftar warga yang menjadi pengangguran.

Dan perkataan ibunya jika ia tidak akan memiliki banyak teman itu tebukti salah. Di hari pertama ia menginjakkan kakinya di sekolah itu, ia langsung direkrut menjadi salah satu pengurus sekolah bersama Yume, kakak kelasnya yang menjadi pengurus sekolah bagian asrama oleh Shue, ketua pengurus sekolah. Sifatnya yang ceria dan mudah bersosialisasi tentu semakin mempermudah dirinya untuk mendapatkan banyak teman. Sungguh beruntung, bukan?

Akumi berjalan riang menuju ke loker sepatunya. Saat hendak mengambil sandal selop, sepucuk surat jatuh di dekat kakinya. Ia mengambil surat yang… aneh. Terdapat bercak darah di surat itu. Baik di amplopnya maupun di kertasnya. Surat itu berisi:

‘9x-7i > 3(3x-7u)
Happy Valentine’s Day

Penghuni Kamar Asrama Nomor Satu’

“Haduuh.. Pagi pagi gini udah kena soal mat. Kurang kerjaan banget nih yang kasih soal” Akumi kemudian segera memasukkan surat tersebut ke dalam tasnya dan berjalan menuju kelasnya.

Brak!

“Pagi semua!!” sapa Akumi heboh seperti biasa.

“Oi! Jangan ngerusakin pintu kelas bisa gak?” sahut Kuni sewot.

Kuni. Teman sekelas Akumi yang entah bagaimana caranya sejak awal pertemuan mereka, tampak seperti musuh bebuyutan yang sudah lama tidak bertemu. Mereka bagaikan kutub utara dan kutub selatan. Sangat sulit untuk menyatukan mereka. Untuk bekerja dalam satu kelompok saja mereka tak mau. Atau bahkan tak sudi. Tidak ada hari damai bagi mereka berdua.

“Apa sih, berisik aja lo” Akumi kemudian menggantungkan tasnya di samping meja dan langsung berbalik ke arah belakang. “Isa!!”

“Eh iya?! Ada apa?” jawab Isa kaget.

Akumi memajukan kepalanya, “Aku dapet surat aneh nih, Sa”

“Aneh gimana?” tanya Isa penasaran. Akumi kemudian mengambil surat tersebut dan menunjukkannya kepada Isa. Dengan wajah serius, mereka membaca surat itu dari atas ke bawah kembali ke atas lagi sampai 3 kali.

“Wahahaha!!! Aku tau!!” Isa kemudian segera mengambil salah satu bukunya dan mulai menulis… hitungan mat? “Nih” Isa membalikkan bukunya ke arah Akumi. “Coba liat hasil akhirnya. i < 3u”

“Ooh… Terus?” Isa mencari tembok terdekat untuk membenturkan kepalanya. “i < 3u bentuknya mirip sama i ❤ u. Itu maksudnya i love u”

“Heee??? Kok i love u sih?”

“Ya emang jawabannya gitu. Nah, sekarang kita cari tau pengirimnya”

“Penghuni kamar asrama nomer satu. Siapa?”

“Entah. Tanya Kak Yume aja”

Akumi dan Isa kemudian beranjak dari tempat duduknya. Mereka nekat melanggar peraturan, berlari di koridor dan segera naik ke tangga menuju lantai 3. Setelah sampai, Isa segera mengetuk pintu kelas dan dibukakan oleh… Keima? “Ada perlu apa?”

“Itu.. Kita mau cari…”

“Yuuchi!!” Belum selesai Isa bicara, sudah langsung diputus Akumi yang entah bagaimana caranya sudah berada di dalam kelas. “Apa?”

“Penghuni kamar asrama cowok nomer satu siapa?” tanya Akumi to the point. “Yoshi sama Kuni”

“Makasih!” Akumi segera berlari keluar kelas dan menarik Isa turun kembali ke kelas mereka.

“Nah, berarti pengirimnya Yoshi dan Kuni,” kata Akumi menarik kesimpulan.

“Ngawur. Cuman satu lah pengirimnya. Masa dua”

“Terus siapa dong di antara mereka berdua?”

“Lihat aja gaya penulisannya. Siapa yang kalau nulis, setiap kata selalu diawali huruf kapital? Udah ya, aku mau ketemu sama Keima dulu. Daaah, selamat ya. Hihihi,” Isa kemudian kabur meninggalkan Akumi yang masih loading mencerna perkataannya.

Huruf kapital di awal kata? Eh, gak mungkin! Masa sih… Kuni? Kuni suka sama aku? Tapi kan… Gak tau ah! Pusing!

***

Pulang sekolah..

Tanpa banyak bicara, Akumi berdiri dan mendatangi meja Kuni. Ia menarik kerah baju lelaki itu dan membawanya ke taman belakang sekolah tanpa mendengarkan satupun protes yang dilemparkan Kuni kepadanya.

“Woi, jadi cewek kasar banget sih”

“Bodo amat gue. Sekarang lo jujur ya. Ini surat lo yang nulis, kan?” tanya Akumi lagi-lagi to the point.

“Mana gue tau. Tanya tuh ke yang nulis surat,” kata Kuni cuek.

“Udah deh, gak usah ngelak. Surat ini dari lo, kan?”

“Iya, iya. Itu surat dari gue. Puas lo?”

“Terus apa maksud lo ngasih gue surat kayak gini?” Mendengar pertanyaan Akumi, Kuni hanya bisa bengong. Ni cewek bego apa bego sih. Udah tau surat pernyataan cinta juga masih tanya maksudnya apa, batin Kuni.

“Gak tau,” jawab Kuni singkat, padat, dan tidak jelas. Ia mulai berjalan pergi meninggalkan Akumi. Merasa jengkel karena Kuni seenak jidatnya pergi, Akumi segera mengambil batu di dekatnya dan melemparnya tepat ke kepala Kuni. Dan tak disangka, Kuni jatuh tersungkur tepat di depan matanya. Akumi yang panik segera mendekati Kuni dan mengguncangkan tubuhnya.

“Woi, Kuni! Bangun lo! Masa dilempar batu kecil gitu aja langsung pingsan. Kuni! Hei!! Banguun!!”

***

Akumi kini sedang duduk di samping kasur tempat Kuni berbaring. Ia mendadak merasa lemas mendengar perkataan dokter tadi.

“Loh, masa Akumi gak tau?”

“Gak tau apa, dok?”

“Kuni mengidap penyakit kanker otak sejak dia masih SD. Ia baru menyadarinya ketika sudah lulus dari SMP dan itu sudah parah. Ia tidak mau dioperasi”

“Hah? Yang bener, dok? Terus kenapa dia gak mau dioperasi?”

“Karena menurut dia itu percuma saja. Jika operasinya gagal, maka dia akan tetap meninggal. Dia susah sekali untuk berpikir positif. Akumi, kalau bisa kamu bujuk Kuni agar ia mau dioperasi. Saya khawatir jika ia tidak segera dioperasi, itu akan berakibat fatal”

Akumi hanya bisa diam tercengang mendengarnya. Sungguh, saat itu juga ingin rasanya ia menangis. Tapi bahkan airmatapun rasanya tak sanggup untuk keluar. Ia sudah terlalu syok dengan dua kejadian hari ini.

Kuni mengerang pelan. Ia mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu di kamarnya. Ia sedikit kaget melihat Akumi ada di sampingnya, duduk dengan muka kusut seperti belum disetrika. “Ngapain lo di sini? Ini kamar cowok. Hus hus, pergi sana”

Akumi tidak tampak terkejut sama sekali. Ia malah langsung heboh meneriaki Kuni. “KUNIII!!!! Lo harus mau dioperasi. HARUS! Ini perintah!”

Mendengar kata operasi, kekesalan Kuni mulai muncul. “Operasi? Ngapain gue dioperasi? Orang gue gak sakit apa-apa kok”

“Jangan bohong! Gue udah tau tentang penyakit lo itu. Dan tadi buktinya, gue lempar batu kecil, lo langsung jatuh pingsan”

“Itu gara-gara kepala gue pusing, bego”

“Naaaaah…. itu pusing kan gara-gara penyakit lo itu kan”

“Penyakit apa sih? Udahlah, gak usah ngomong yang aneh-aneh. Mending sekarang lo balik ke kamar, terus tidur”

“Kanker otak…” ucap Akumi dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa terdengar oleh Kuni. Dan yang terjadi hanyalah keheningan. Akumi berusaha mati-matian untuk tidak menangis.

“Terus apa mau lo?” tanya Kuni memecah keheningan.

“Operasi”

“Gak! Percuma. Gak ada gunanya.”

Kali ini tangis Akumi benar-benar pecah. “Please, kali ini aja. Lo harus mau dioperasi. Gue masih pingin berantem ama lo. Gue masih pingin ketemu ama lo. Gue nggak pingin lo mati. Gue…. gue suka sama lo, Kuni!”

Kuni tersenyum mendengar perkataan Akumi. Terutama kalimat yang terakhir tentu saja. “Oke, gue bakal jalanin operasi itu. Tapi dengan satu syarat”

Akumi diam menunggu kelanjutan kalimat Kuni. “Kalau operasi itu berhasil, lo harus mau jadi pacar gue”

“Pasti berhasil! Gue ancam sekalian dokternya biar berhasil”

Kuni mengecup bibir Akumi singkat. “Makasih”

 

***

 

Sudah seminggu lebih sejak hari itu, Kuni masih belum juga kembali ke sekolah. Tidak ada kabar apapun tentangnya dan hal ini tentu saja mebuat Akumi sangat khawatir. Berhasilkan operasinya? Atau jangan jangan… Akumi menggelengkan kepalanya cepat, membuang pikiran buruknya. Hingga saat istirahat, Akumi melihat Kuni berdiri di depan kantin. Ia hendak menghampirinya namun ternyata Kuni sedang berbincang bersama gadis lain. Ia tampak senang sekali, tawanya pun juga sangat lepas. Akumi yang terlanjur sakit hati hanya bisa pergi dan menangis di taman sekolah.

“Dasar Kuni bego! Bego! Bego! Gue benci sama lo!”

“Tapi gue sayang sama lo” Kuni tiba-tiba sudah berada di belakang Akumi.

Akumi yang tidak menyangka akan kehadiran Kuni segera menghapus airmatanya kasar. “Ngapain lo disini? Kenapa gak sama cewek tadi aja?”

“Karena gue mau sama cewek yang gue suka”

“Siapa?”

“Lo. Siapa lagi?”

“Ha? Gue?” tanya Akumi sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, lo. Keyzawa Akumi. Cewek paling cerewet yang pernah gue kenal” Kuni kemudian memeluk Akumi erat. “Kalau aja waktu itu lo gak maksa gue buat operasi, sekarang gue gak bakal ada disini. Thanks.”

“You’re welcome, Kuni. Jangan pernah pergi tinggalin gue lagi”

“Pasti”

 

終わり
Owari

 

 

 

Ada bagian dalam cerita ini yang mungkin (atau memang) mirip dengan fanfic karya seseorang di suatu blog dengan tokohnya anggota boyband Korea. Bagian itu bukan berarti saya mengcopy-paste karena saya sendiri bahkan sudah lupa blognya dan saya membacanya sudah lama sekali. Saya hanya terinspirasi dan mungkin juga sudah dalam keadaan panik karena cerita ini sebenarnya digunakan untuk tugas sekolah dan sudah dikejar deadline. Jadi saya mohon maaf jika bagian tersebut tidak murni dari ide saya. Jika ada yang menemukan blog dengan ceritanya mirip tersebut, tolong sertakan linknya di komen dan disclaimer tersebut akan saya ubah. Terima kasih.